Saturday, February 11, 2017

PERCAKAPAN TIGA ARAH



Abubakar Raden
Anggota Forum Studi Independensia
Sekum Himpunan Mahasiswa Islam



Abdul adalah nama pemberian Rini, sahabatnya. Abdul sedikit pendiam, kritis, berkulit hitam manis. Meski begitu, Rini tidak sungkan mengajak ngobrol, bercanda, sampai pertumpahan air mata sekalipun. Abdul sangat pede, mengakui, bahwa ia berdarah Ambalau, terkenal kultur keras. Tak menjadi ukuran perasaan Rini. Rini manis, juga cerewet tapi pandai dan cerdas. Rini merasa percakapan bersama On dan Abdul kelihatan sangat menyesatkan bila bertanya..! Terkadang. Rini marah, bila pertanyaan tidak terjawab oleh On. Ditambah Abdul senang mengatur amarah Rini terus meluap atas sikap On cuek tidak menghargai.    
Sesungguhnya perasaan rapuh dibuat-buat On, justru Rini sanagat senang, segala bentuk kegelisahan mampu terlupakan. On juga senang bila terus bersama Rini. Keduanya memang bahagia bila bersama. On dan Rini, tidak jauh berbeda dari sisi pemikiran kritis. Sebab On terkenal berkarakter filsu,  muda, ganteng, bergaya klasik sementara karakter hidup Rini samping kitis, agak kelaki-lakian. Wajar Rini berpikir kritis.
Mereka bertigga mulanya tidak saling kenal, semenjak pertama masuk kampus. Meski berbeda-beda kampus. Rini, Abdul dengan sadar pentingnya menimbah pengetahuan umum. Lewat perekrutan anggota di salah satu forum studi independensia. Rini dan Abdul menggikuti. Hingga menjadi kader. Proses itu, upaya menghasa kemampuan. Bertemu lah On. Tentu On, sebagai senior forum studi independensia sekaligus kampus. Kemudian di anatara mereka salaing mengenal satu-sama lain.    
Hubungan persaudaran antara ketiga, Rini, On dan Abul yaitu persaudaran idologis, bagi mereka pertikayaan bagian hiburan setiap saat mereka bertemu. Pertikayan tumbuh melalui emosi. Sebagai gadis, Rini tidak mau diremehkan. On dan Abdul, justru menganggap kejantannya terganggu, andai di taklukkan seorang gadis. Prinsip mereka sama-sama mempertahakan kewibawan seorang pria.
Sewaktu berkeinginan teguh untuk melihat indah percikan matahari terbenam di atas puncak Gamalama. Rini merencanakan mendaki bersama teman-teman ideologisnya. Bujukan serta rayuan Rini, semua setuju berangkat. Tak tahu kenapa! Rini kurang terkontrol emosi mengabil sikap untuk tidak mendaki. Batal lah kesempatan mendaki. Padahal cucara hari itu baik sekali untuk melakukan pendakian.. 
Sikap konyol Rini terpenjara derita batin, membuat malu menampkan wajah. Sering Usai waktu, Rini menunjukan keberanian terhadap teman-teman. On Tahu bahwa Rini tidak berangkat mendaki. Sengaja memang On menanyakan sudah diatas gunung apa belum! Agar supaya semua teman-teman tidak mencurigai kondisi ini memang benar tidak ketahui On, malamnya, menelpon agar memastikan keadaan karena melihat cuaca langit terselimut kabut hitam siang, hingga sore. Jawab Rini terlontar tegas menyindir, teman-teman tidak siap. Kini semkin rumit rasa perjanjian lisan tak mengoreskan bentuk apapun terkecuali pusing atau cemberut.
Situwasi genting tak mungkin On diam dalam penderitan Rini. On mengajak Rini agar besama semula. Rini teguh hati kembali gumpul. Kehadiran Rini membuat On tertawa lucu sendiri, menyebabkan ketersinggungan Rini semakin dalam. Rini tahu, cara terburuk menaklukkan On juga Abdul yaitu meneteskan air mata. Siapa sangka Rini memnang meski harus seperti anak kecil. Sangat terang-terangan menangis dibawah kecerahan lapu philips. Perasaan On lulu mendengar isak tangis Rini, kemudian membujuk Rini agar berhenti menangis, secara tiba-tiba gadis berjubah hita besar memandangi On dan Rini mencuri pandang peristiwa pertikayan Rini, On dan Abdul.
Rini kiranya sedikit lihai dalam bidang ekting karena pernah mengikuti latian teater, tahu sendiri dalam bidang tiater itu cukup membutuhkan karakter profosional. Sekecil Abdul tak tinggal diam, tetap menggoda Rini megeluarkan semua tenaga energi untuk membakar jantung Rini tetap amarah Rini meluap. Sapai-sampai Rini berkeputusan terburuk bergerak meninggalkan temapat ngumpul. Namun terjadi apa?, Rini diberhentikan dari perjalan tersebut. Mengingat malam semakin larut apalah mungkin Rini dibiarkan bertati-tati menempuh jalan lurus antara keluarah.
Semua bisa dikendalikan On. Tak lama Rini kembali, masi saja marah, Rini pun bergegas menggunakan sepeda motor biru bercampur putih lalu pergi. Kepergian tersebut membawa bekas luka. Ini diketahui lewat komunikasi On terhdap Rini. Tahu-tahu bara api kemarahan Rini tertutup arang tak kelihatan mulai membarah. Seiring waktu On dengan wajah pucat, gegabah, mungkin berjalan tak lagi mengunakan helem. On bergegas bersama seorang adik akbar menuju kediaman Rini menggunakan helem. Kepergian tersebut tak lagi menghiraukan beberapa adik-adik.
Tibah, On dan Akbar Bercakapan besama Rini. Tampak perasaan Akbar menatap semua tersipuk malu berkomunikasi. Membalut senyuman tipis tercampur emosi. Menjadi tanda tanya besar Akbar.! Pembicaraan halus, manis, ada sikap tegas terselubung. Meski harus dipikirkan Akbar supaya memberhentikan semua sandiwara. Esok hari Rini berangkat ke-kampus mencurahkan semua luka lara terhadap seorang sahabat. 
Mulai dari situlah kesadaran Rini harus juju pada perasan terhadap On yang selam ini terpendam. Perbincangannya terhadap Indri. Meski On sendir tahu dan memandang cinta Rini sebelah mata. Rini tetap mengupayakan agara On bersikap rindu pada nya. Meski Rini juga tahu, tidak mungkin On menerima kenyataan ini begitu saja. Waktu menjawab terhadap Akbar keadilan sosial berlaku, saat kejenuhan melanda Akbar sengaja, mampir rumah sahabat bernama Indri, mumpung Indri sempat bekenalan dengan Akbar sebelum kejadian tersebut.
Satu tempat perkumpulan mahasiswa, Indri kehilangan dompet, Akbar menemukaan dompet dan mengembalikan. Indri gembira, tak harus merasa kehilangan dompet berisi uang semeter belum terbayar di bank. Saat Indri menerima dompet itu, Indri menilai akbar seorang baik hati, pertemuan sekejab Indri dan Akbar, Indri kemudian bercerita bahwa ada seorang sahabat sama-sama kuliah bernama Rini, mencurahkan semua perasaan cinta lelaki bernama On. Banyak hal yang tidak diketahui Indri bahwa Rini sangat dekat dengan Akbar juga On. Akbar mendengar cerita Indri seraya tidak menggenal Rini juga On. Akbar memang sedikit sok atas apa yang diceritakan Indri. Perasaan kehawateran Akbar mulai menurun setelah semua kejadian.
Akbar kembali berfikir untuk memberhentikan jangan sampai sebagian sahabat-sahabat mereka memandang mereka negatif. Meski Akbar mengetahui kenyataan bahwa Rini mencintai On. On sendri tidak mencintai Rini. Akabar kecoblosan menggatakan ini pada Abdu. Begitu cerita selesai. Abdu sangat gembira dengan semua informasi Akbar bahwa peluang besar untuk dirinya. Abdul bergegas mengambil ponsel untuk membuat pertemuan tersendri tampa harus melibatkan orang lain. Sejak pertemua sepuluh malam Abdul gemtar harus berfikir mengatakan semua isi hati.
Abdul mulai bersikap seperti pria lain mudah memangsa gadis-gadis. Abdul mengatar Rini dengan kalimat pembuka lihatlah bintang-bintang malam meski jauh, hitam, tetap kelihat. Rini mulai berfikir kurang beres dalam kepala Abdul, hanya saja Rini menjaga sikap agar tidak mengecewakan Abdul, olehnya Rini diam, seakan mendengar semua cerita, tiba klimaks perasaan Abdul mulai memuncak. Rini paham sebagai gadis dewasa, pernah juga punya pacar, tentu tahu bagimana trik seorang pria menggungkapkan cinta. Rini kembali berbicara sama skali menyentuh cerita Abdul tersipuk malu-malu, gelora asmara makin meyebar tubuh Abdul. Lantas semua selesai, Rini mendengar henpon berbunyi ternyata, pacar Rini menelpon berlum sempat putus.  Sekian(***)

No comments:

Post a Comment