Abubakar Raden
Anggota Forum Studi Independensia
Sekum Himpunan Mahasiswa Islam
Abdul
adalah nama pemberian Rini, sahabatnya. Abdul sedikit pendiam, kritis, berkulit
hitam manis. Meski begitu, Rini tidak sungkan mengajak ngobrol, bercanda,
sampai pertumpahan air mata sekalipun. Abdul sangat pede, mengakui, bahwa ia
berdarah Ambalau, terkenal kultur keras. Tak menjadi ukuran perasaan Rini. Rini
manis, juga cerewet tapi pandai dan cerdas. Rini merasa percakapan bersama On
dan Abdul kelihatan sangat menyesatkan bila bertanya..! Terkadang. Rini marah,
bila pertanyaan tidak terjawab oleh On. Ditambah Abdul senang mengatur amarah
Rini terus meluap atas sikap On cuek tidak menghargai.
Sesungguhnya
perasaan rapuh dibuat-buat On, justru Rini sanagat senang, segala bentuk
kegelisahan mampu terlupakan. On juga senang bila terus bersama Rini. Keduanya
memang bahagia bila bersama. On dan Rini, tidak jauh berbeda dari sisi
pemikiran kritis. Sebab On terkenal berkarakter filsu, muda, ganteng, bergaya klasik sementara
karakter hidup Rini samping kitis, agak kelaki-lakian. Wajar Rini berpikir
kritis.
Mereka
bertigga mulanya tidak saling kenal, semenjak pertama masuk kampus. Meski
berbeda-beda kampus. Rini, Abdul dengan sadar pentingnya menimbah pengetahuan
umum. Lewat perekrutan anggota di salah satu forum studi independensia. Rini
dan Abdul menggikuti. Hingga menjadi kader. Proses itu, upaya menghasa
kemampuan. Bertemu lah On. Tentu On, sebagai senior forum studi independensia sekaligus
kampus. Kemudian di anatara mereka salaing mengenal satu-sama lain.
Hubungan
persaudaran antara ketiga, Rini, On dan Abul yaitu persaudaran idologis, bagi
mereka pertikayaan bagian hiburan setiap saat mereka bertemu. Pertikayan tumbuh
melalui emosi. Sebagai gadis, Rini tidak mau diremehkan. On dan Abdul, justru
menganggap kejantannya terganggu, andai di taklukkan seorang gadis. Prinsip
mereka sama-sama mempertahakan kewibawan seorang pria.
Sewaktu
berkeinginan teguh untuk melihat indah percikan matahari terbenam di atas puncak
Gamalama. Rini merencanakan mendaki bersama teman-teman ideologisnya. Bujukan
serta rayuan Rini, semua setuju berangkat. Tak tahu kenapa! Rini kurang
terkontrol emosi mengabil sikap untuk tidak mendaki. Batal lah kesempatan
mendaki. Padahal cucara hari itu baik sekali untuk melakukan pendakian..
Sikap
konyol Rini terpenjara derita batin, membuat malu menampkan wajah. Sering Usai
waktu, Rini menunjukan keberanian terhadap teman-teman. On Tahu bahwa Rini
tidak berangkat mendaki. Sengaja memang On menanyakan sudah diatas gunung apa
belum! Agar supaya semua teman-teman tidak mencurigai kondisi ini memang benar
tidak ketahui On, malamnya, menelpon agar memastikan keadaan karena melihat
cuaca langit terselimut kabut hitam siang, hingga sore. Jawab Rini terlontar
tegas menyindir, teman-teman tidak siap. Kini semkin rumit rasa perjanjian
lisan tak mengoreskan bentuk apapun terkecuali pusing atau cemberut.
Situwasi
genting tak mungkin On diam dalam penderitan Rini. On mengajak Rini agar besama
semula. Rini teguh hati kembali gumpul. Kehadiran Rini membuat On tertawa lucu
sendiri, menyebabkan ketersinggungan Rini semakin dalam. Rini tahu, cara
terburuk menaklukkan On juga Abdul yaitu meneteskan air mata. Siapa sangka Rini
memnang meski harus seperti anak kecil. Sangat terang-terangan menangis dibawah
kecerahan lapu philips. Perasaan On lulu mendengar isak tangis Rini, kemudian
membujuk Rini agar berhenti menangis, secara tiba-tiba gadis berjubah hita
besar memandangi On dan Rini mencuri pandang peristiwa pertikayan Rini, On dan
Abdul.
Rini
kiranya sedikit lihai dalam bidang ekting karena pernah mengikuti latian teater,
tahu sendiri dalam bidang tiater itu cukup membutuhkan karakter profosional.
Sekecil Abdul tak tinggal diam, tetap menggoda Rini megeluarkan semua tenaga
energi untuk membakar jantung Rini tetap amarah Rini meluap. Sapai-sampai Rini
berkeputusan terburuk bergerak meninggalkan temapat ngumpul. Namun terjadi
apa?, Rini diberhentikan dari perjalan tersebut. Mengingat malam semakin larut
apalah mungkin Rini dibiarkan bertati-tati menempuh jalan lurus antara
keluarah.
Semua
bisa dikendalikan On. Tak lama Rini kembali, masi saja marah, Rini pun bergegas
menggunakan sepeda motor biru bercampur putih lalu pergi. Kepergian tersebut
membawa bekas luka. Ini diketahui lewat komunikasi On terhdap Rini. Tahu-tahu
bara api kemarahan Rini tertutup arang tak kelihatan mulai membarah. Seiring
waktu On dengan wajah pucat, gegabah, mungkin berjalan tak lagi mengunakan
helem. On bergegas bersama seorang adik akbar menuju kediaman Rini menggunakan
helem. Kepergian tersebut tak lagi menghiraukan beberapa adik-adik.
Tibah,
On dan Akbar Bercakapan besama Rini. Tampak perasaan Akbar menatap semua
tersipuk malu berkomunikasi. Membalut senyuman tipis tercampur emosi. Menjadi
tanda tanya besar Akbar.! Pembicaraan halus, manis, ada sikap tegas
terselubung. Meski harus dipikirkan Akbar supaya memberhentikan semua
sandiwara. Esok hari Rini berangkat ke-kampus mencurahkan semua luka lara
terhadap seorang sahabat.
Mulai
dari situlah kesadaran Rini harus juju pada perasan terhadap On yang selam ini
terpendam. Perbincangannya terhadap Indri. Meski On sendir tahu dan memandang
cinta Rini sebelah mata. Rini tetap mengupayakan agara On bersikap rindu pada
nya. Meski Rini juga tahu, tidak mungkin On menerima kenyataan ini begitu saja.
Waktu menjawab terhadap Akbar keadilan sosial berlaku, saat kejenuhan melanda
Akbar sengaja, mampir rumah sahabat bernama Indri, mumpung Indri sempat
bekenalan dengan Akbar sebelum kejadian tersebut.
Satu
tempat perkumpulan mahasiswa, Indri kehilangan dompet, Akbar menemukaan dompet
dan mengembalikan. Indri gembira, tak harus merasa kehilangan dompet berisi
uang semeter belum terbayar di bank. Saat Indri menerima dompet itu, Indri
menilai akbar seorang baik hati, pertemuan sekejab Indri dan Akbar, Indri
kemudian bercerita bahwa ada seorang sahabat sama-sama kuliah bernama Rini,
mencurahkan semua perasaan cinta lelaki bernama On. Banyak hal yang tidak
diketahui Indri bahwa Rini sangat dekat dengan Akbar juga On. Akbar mendengar
cerita Indri seraya tidak menggenal Rini juga On. Akbar memang sedikit sok atas
apa yang diceritakan Indri. Perasaan kehawateran Akbar mulai menurun setelah
semua kejadian.
Akbar
kembali berfikir untuk memberhentikan jangan sampai sebagian sahabat-sahabat
mereka memandang mereka negatif. Meski Akbar mengetahui kenyataan bahwa Rini
mencintai On. On sendri tidak mencintai Rini. Akabar kecoblosan menggatakan ini
pada Abdu. Begitu cerita selesai. Abdu sangat gembira dengan semua informasi
Akbar bahwa peluang besar untuk dirinya. Abdul bergegas mengambil ponsel untuk
membuat pertemuan tersendri tampa harus melibatkan orang lain. Sejak pertemua
sepuluh malam Abdul gemtar harus berfikir mengatakan semua isi hati.
Abdul
mulai bersikap seperti pria lain mudah memangsa gadis-gadis. Abdul mengatar
Rini dengan kalimat pembuka lihatlah bintang-bintang malam meski jauh, hitam,
tetap kelihat. Rini mulai berfikir kurang beres dalam kepala Abdul, hanya saja
Rini menjaga sikap agar tidak mengecewakan Abdul, olehnya Rini diam, seakan
mendengar semua cerita, tiba klimaks perasaan Abdul mulai memuncak. Rini paham
sebagai gadis dewasa, pernah juga punya pacar, tentu tahu bagimana trik seorang
pria menggungkapkan cinta. Rini kembali berbicara sama skali menyentuh cerita
Abdul tersipuk malu-malu, gelora asmara makin meyebar tubuh Abdul. Lantas semua
selesai, Rini mendengar henpon berbunyi ternyata, pacar Rini menelpon berlum
sempat putus. Sekian(***)

No comments:
Post a Comment