Sunday, February 12, 2017

Perempuan-Perempuan di Sisi Muhammad Saw, ( Poligami Di Antara Pembebasan, Cinta Dan Ketertindasan )

Resensi Buku


 
Resensionis: Richard Ibrahim 
(Anggota Forum Studi Independensia)
Ketua Hmj Ilmu politik Ummu Ternate


Perempuan-Perempuan di Sisi Muhammad Saw,
Poligami di Antar Pembebasan, Cinta dan Ketertindasan
Diterjemahkan dari Women In The Eyes and Heart of Muhammad karya Dr. Ali Syari’ati.
Diterbitkan oleh SHOF PUBLICATIONS, Tehran, Iran
Penerjemah : Arif Mulyadi
Penyunting : A.M. Safwan
Cetakan 1, Syakban 1433 H / Juni 2012
Cetakan 2, Syawal 1435 H / Agustus 2014
Diterbitkan oleh
Rausyan Fikr Institute
Tentang Penulis
Doktor Ali Syari’ati adalah salah seorang cendekiawan yang menjunjung tinggi objektivitas keilmuan yang penuh percaya diri, berani berbeda pendapat bukan saja dengan para pemikir Barat dan Sunni tetapi juga dengan kalangan Syi’ah walaupun dia sendiri dari kalangan Syiah, juga dikenal sebagai seorang Sosiolog, ahli Politik dan syariat serta sering juga disebut sebagai “arsitek” revolusi Iran selain Ayatullah Ruhullah Khomeini. Dilahirkan di daerah Mizanan terletak dipinggiran kota Mashad Iran pada tanggal 24 November 1933. Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi Syari’ati (ayah) dengan Putri Zahra (ibu).
Pada tahun 1960, Syari’ati berkesempatan studi di Sorbon Paris. Ketika berada di Paris inilah Syari’ati berkesempatan menelah karya-karya Philosof, Sosiolog, dan Islamolog. Tahun 1964, Syari’ati kembali ke Iran; ditahan di perbatasan selama enam bulan. Adapun alasan penangkapannya adalah karena dituduh telah melakukan upaya melawan pemerintah di Paris.
Setelah dibebaskan Syari’ati mengajar di Universitas Masyahad Dan Husainiyah Al-Irsyad, tapi karena kekritisan Syari’ati terhadap pemerintah menyebabkan dia diberhentikan dari keduanya. Setelah itu Syari’ati selalu diawasi oleh SAVAK (Kepolisian Iran). Karna tidak bebas maka dia hijrah ke Inggris 1977 namun dua bulan setelah itu, tepatnya pada 19 Juni 1977 Ali Syari’ati ditemukan tewas di Southamton. Dugaan kuat dia dibunuh oleh SAVAK tentara-tentara Syah.
Ali Syari’ati sebagai seorang Intelektual islam mengbuktikan kepada kita melalui gagasan-gagasan, tulisan-tulisan, karya dan aksinya bahwa islam mampu merubah wajah dunia. Dengan menjadikan islam sebagai satu mazhab pemikiran, Ali Syari’ati menmbangun tanggung jawab sosial yang kokoh pada dirinya dan mampu menularkan kepada orang lain. Inilah salah satu keistimewaan Ali Syari’ati dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain.
Tulisan ini adalah resensi dari Buku Ali Syari’ati yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Rausyan Fikr Institute, sebuah yayasan yang memiliki program unggulan dalam sosialisasi pemikiran filsafat Islam serta perpustakaa yang memberikan pelayanan penelitian dalam khazanah pemikiran filsafat  dan mistisisme dari para pemikir Islam Iran seperti Murtadha Muthahhari, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, dan Ayatullah Muh. Baqir Shadr.
Buku Perempuan-Perempuan di Sisi Muhammad Saw, (Poligami di Antara Pembebasan, Cinta dan Ketertindasan) mengankat dua topik pembahasan yang paling sentral pertama: isu tentang poligami dalam Islam, yang telah menarik perhatian sekelompok peneliti Barat tertentu yang melebihi topik Islam lainnya. Kedua Poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw (kisah tentang kehidupan nabi Muhammad Saw, bersama para istrinya)
Pertama terkait isu poligami. Dalam literatur Islam poligami lebih umum dipahami sebagai pengumpulan dua sampai empat istri dalam waktu yang bersamaan oleh seorang suami. Dalam ilmu Antropologi, pernikahan antara laki-laki dan perempuan dibedakan dalam dua bentuk: poliandri, yaitu perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki, dan poligini, yaitu perkawinan antara seorang laiki-laki dengan beberapa orang perempuan.
Permulaan munculnya poligami tidak dapat ditentukan dengan pasti, walaupun beberapa anggapan yang mengatakan bahwa permasalahan poligamai hari ini dikarenakan persolana sejarah poligamai yang dilakukan oleh nabi Muhammad Saw. Tetapi munculnya poligami diperkirakan hampir seusia umur manusia, karena pusat-pusat peradaban dunia di masa silam , seperti Babilonia, Syira, dan Mesir telah lama mengenal poligami.
Demikian pula agama-agama besar sebelum Islam, seperti agama Hindu-Budha, agama Yahudi, dan agama Nasrani, telah memberikan pengakuan terhadap eksistensi poligami. Ini berarti bahwa praktek poligami bukan saja dari kalangan raja-raja dan nabi-nabi, tetapi juga di semua kalangan masyarakat. Contoh isu poligami yang dipraktekan pada masa silam anggapan para kaum lelaki bahwa Istri yang banyak merupaka simbol status sosial. Makin banyak istri makin tinggi pula status sosial seorang laki-laki.
            Tetapi kontoroversi mengenai poligami, baik dalam konsep maupun penerapannya masih berlangsun hingga kini, dari kalangna Islam dari segi konsep masih diperdebatkan apakah Islam merestui eksistensi poligami sebagai suatu institusi legal atau tidak. Ada golongan yang menolak poloigami dan ada sebagian golongan yang mendukung poligami, memang semuanya berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadis tetapi interpretasi dari masing-masing golongan inilah yang menyebabkan perbedaan itu.
Dari satu segi Al-Quran membenarkan poliogami: “Dan Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya) maka kawinlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniyaya”  (QS An-nisa’ [4]: 3). Ayat ini memberikan isyarat kebolehan melakukan poligami bagi oarng yang memnuhi persyaratan, tetapi persyaratn itu seolah-olah Al-Qur’an memustahilkannya “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian (QS An-nisa’ [4]: 129).
Isu poligami khususnya istri-istri nabi Muhammad Saw, dari kalangan teoritikus dan peneliti Barat sangat mencuak karena terkait isu yang banyak tersebar, cercaan musuh karena kebencian, kebohongan, tuduhan bahkan malah mendistorsi fakta sejarah dan semuanya tak lebih dari sesuatu yang berlebihan. Salah satu contoh; tuduhan mereka yang menyamakan nabi sebagai Don Juan, seorang tokoh legendaris Spanyol yang diasosiasikan sebagai pemburu wanita. Latar belakang inilah menyebabkan buku ini diterbitkan, berawal dari sebuah esai yang disampaikan oleh Ali Syari’ati dalam sebuah konferensi atas undangan Gereja Jesuite Paris sebagai respon atas fitnahan penulis prancis terutama kepada Mr. Conde, yang mengomentari persoalan poligami dan perkawinan Nabi Muhammad Saw.
Menurut Ali Syarti’ati banyak permasalahan yang belum terjawab dengan pasti oleh ilmu pengetahuan, salah satu contoh adalah masalah perempuan dari sudut pandang emosi dan sosial sehingga masih patut dibahas, bahkan masa kita saat ini. Hal ini dikarenakan para penulis yang menyelidiki permasalahan  tersebut tidak berhasil membebaskan dirinya sendiri dari praduka yang dibuat oleh lima faktor yang sangat sama, yaitu filsafat (metode berfikir dan mazhab pemikiran), agama, tradisi, tern-tern yang lazim (citra rasa, sentimen, persuasi), dan perasaan spritual dan kepentingan (masyarakat atau individu). Oleh karenya permasalahan perempuan dari berbagai sudut yang dapat didiskusikan bergantung pada variabel zaman dan lingkungan sampai batas tertentiu sehingga, kadang-kadang banyak prinsip dan norma yang dianggap sangat manusiawi pada periode-periode tertentu dianggap kejahatan anti kemanusiaan dilingkungan dan era lainnya. Permasalahn poligami adalah permasalah seperti itu.
Pembahasan kedua adalah poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad (kisah tentang kehidupan Nabi bersama para istrinya).
Syari’ati dengan uraian yang sangat menarik memaparkan motif-motif yang menjadi latar belakang perkawinan setiap istri Nabi. Dalam buku kecil ini , Syari’ati mengungkapkan sembilan istri Nabi, yaitu: Aisyah, Saudah, Hindun (Ummu Salamah), Ramlah (Ummu Habibah), Juwairah, Shafiyah, Maymunah, Hafshah, dan Zainab. Entah kenapa Khadijah tidak masuk dalam pembahsan ini. Setiap istri Nabi mempunyai kekhususan dan peranan dalam mengembangkan misi kerasulan Nabi Muhammad Saw.
Motivasi Nabi memiliki beberapa istri adalah sebagai imbalan jasa, hiburan dan bantuan terhadap beberapa janda untuk memberi perlindungan kepada anak-anak yatim yang kehilangan ayahnya karena Syahid di medan perang, untuk meperkokoh ikatan persahabatan dan mencegah terjadinya perpecahanm, dan untuk menarik suatu suku menjadi penganut agama Islam.
Nabi Muhammad mengawini beberapa orang didorong oleh rasa tanggung jawab sosial yang tinggi terhadap beberapa pejuang yang terlantar, seperti. Saudah, salah seorang perempuan yang pernah disiksa karena masuk Islam, lalu Nabi menganjurkan untuk hijrah ke Abyssinia (Ethiopia). Sekembalinya dari tempat penghijraan suaminya sudah meninggal dan hidupnya terlantar, lalu Nabi mengawinnya. Demikian pula Hindun (Ummu Salamah), ia adalah istri abdullah Makhzunmi, seorang sahabat karib Nabi dan pejuang besar yang gugur di peperangan. Semenjak suaminya meninggal hidupnya terlantar bersama anak-anaknya. Namun Nabi mengawininya
Nabi mengawini Ramlah (Ummu habibah), puteri Abu Sufyan yang pernah menjadi musuh bebuyutan Nabi. Ia lebih memilih berpisah dengan orang tuanya demi mempertahankan keyakinannya. Nabi mengawininya sebagai penghargaan dan sekaligus untuk mengangkat martabatnya. Agag mirip dengan nasib Juwariah dan Safiah, dua orang perempuan rampasan perang yang dibebaskan oleh Nabi, lalu dikawininya untuk memberikan rasa percaya diri kepadanya.
Mengenai kasus Zainab yang mendapat sorotan orientalis, Nabi dituduh mengambil istri anak angkatnya Zaid bin Haritsah (sebelumnya seorang budak berdarah Syira). Nabi mengawinkannya dengan Zainab, seorang perempuan terhormat, berasal dari marganya sendiri (sepupu Nabi dari pihak ayah) dengan tujuan untuk merombak adat keras yang merupakan peninggalan dari jaman jahiliah yang masih melekat pada saat itu yakni anggapan bahwa seorang perempuan tidak boleh dinikahi oleh mantan budak. Setelah Nabi Muhammad berhasil melakukan gerakan sosial dengan harapan agar menghapus perbedaan antara orang merdeka dan dimerdekakan (mantan budak), tapi sayang sekali hubungan antara keduanya tidak berlangsung normal, salah satu sebab oleh citra Zaid sebagai bekas budak masih belum bisah diterima dikalangan keluarga Zainab. Akhirnya, keduanya memilih untuk bercerai. Setelah perceraian, Zainab tidak memiliki apapun kecuali memori penderitaanya yang pahit . Nabi sangat tegang dan gelisah, Nabi merasa amat bertanggung jawab atas nasib Zainab karena belialullah yang mendesaknya (Pernikahan Zaid dan Zainab) demi kebaikan sosial. Menurut Syari’ati ini adalah realitas manusiawi yang terbuaka dihadapan Muhammad yang merupakan pemimpin moral dan sosial yang paling ralistis tidak perna lalai atau melawan realitas, dan salah satu sifat Islam yang valid dan terkenal adalah  pengetahuan tentang realitas-realitas semacam ini. Maka dengan kondisi tersebut setelah beberapa waktu lamanya, Zainab dikawini oleh Nabi. Meskipun wajah Zainab terkenal cantik, bukan faktor itu yang menjadi motif Nabi. Seandainya hal itu, maka sejak awal, sebelum Zaid, Nabi dapat mengawininya.
Poligami menurut Syari’ati adalah suatu keniscayaan (cinta), didalam suatu kondisi tertentu poligami dapat dinilai merugikan perempuan, tetapi dalam kondisi lain bisa saja menjadi kekuatan pembebas perempuan (Poligami di Antara Pembebasan, Cinta, dan Ketertindasan). Poligami bukan persoalan halal atau haram, boleh atau tidak, tetapi lebih merujuk kepada suatu kondisi sosial budaya tertentu. Pada saat kondisi realitas masyarakat menganggapnya wajar seperti ketika masa Nabi, maka pada saat itu poligami dapat dibenarkan. Sebaliknya kalau kondisi masyarakat menganggapnya merugikan, maka pada saat itu poligami bisa ditolak.
Poligami yang dialkukan oleh Nabi Muhammad Saw, sangat berbeda dengan poligami yang telah dilakuakn oleh para kaisar dan raja-raja lain yang dimotivasi oleh hasrat hedonistik. Tetapi setiap perkawinan Nabi dilatarbelakangi oleh suatu kepentingan sosial dan dakwah dalam kapasitasnya sebagai seorang Nabi dan Rasul. Istri-istri Nabi lebih banyak dikawini ketika nabi berusia senja, dan ketika sedang intensif mengembangkan misi kerasulan di Madinah.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa Syarati adil yang ditekankan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat (3), semakin memperkuat anggapan bahwa yang ditekankan dalam teks tersebut bukan pada poligaminya, tetapi kekuatan pembebasan terhadap kelompok masyarakat lemah. Sekian (*)

Saturday, February 11, 2017

PERCAKAPAN TIGA ARAH



Abubakar Raden
Anggota Forum Studi Independensia
Sekum Himpunan Mahasiswa Islam



Abdul adalah nama pemberian Rini, sahabatnya. Abdul sedikit pendiam, kritis, berkulit hitam manis. Meski begitu, Rini tidak sungkan mengajak ngobrol, bercanda, sampai pertumpahan air mata sekalipun. Abdul sangat pede, mengakui, bahwa ia berdarah Ambalau, terkenal kultur keras. Tak menjadi ukuran perasaan Rini. Rini manis, juga cerewet tapi pandai dan cerdas. Rini merasa percakapan bersama On dan Abdul kelihatan sangat menyesatkan bila bertanya..! Terkadang. Rini marah, bila pertanyaan tidak terjawab oleh On. Ditambah Abdul senang mengatur amarah Rini terus meluap atas sikap On cuek tidak menghargai.    
Sesungguhnya perasaan rapuh dibuat-buat On, justru Rini sanagat senang, segala bentuk kegelisahan mampu terlupakan. On juga senang bila terus bersama Rini. Keduanya memang bahagia bila bersama. On dan Rini, tidak jauh berbeda dari sisi pemikiran kritis. Sebab On terkenal berkarakter filsu,  muda, ganteng, bergaya klasik sementara karakter hidup Rini samping kitis, agak kelaki-lakian. Wajar Rini berpikir kritis.
Mereka bertigga mulanya tidak saling kenal, semenjak pertama masuk kampus. Meski berbeda-beda kampus. Rini, Abdul dengan sadar pentingnya menimbah pengetahuan umum. Lewat perekrutan anggota di salah satu forum studi independensia. Rini dan Abdul menggikuti. Hingga menjadi kader. Proses itu, upaya menghasa kemampuan. Bertemu lah On. Tentu On, sebagai senior forum studi independensia sekaligus kampus. Kemudian di anatara mereka salaing mengenal satu-sama lain.    
Hubungan persaudaran antara ketiga, Rini, On dan Abul yaitu persaudaran idologis, bagi mereka pertikayaan bagian hiburan setiap saat mereka bertemu. Pertikayan tumbuh melalui emosi. Sebagai gadis, Rini tidak mau diremehkan. On dan Abdul, justru menganggap kejantannya terganggu, andai di taklukkan seorang gadis. Prinsip mereka sama-sama mempertahakan kewibawan seorang pria.
Sewaktu berkeinginan teguh untuk melihat indah percikan matahari terbenam di atas puncak Gamalama. Rini merencanakan mendaki bersama teman-teman ideologisnya. Bujukan serta rayuan Rini, semua setuju berangkat. Tak tahu kenapa! Rini kurang terkontrol emosi mengabil sikap untuk tidak mendaki. Batal lah kesempatan mendaki. Padahal cucara hari itu baik sekali untuk melakukan pendakian.. 
Sikap konyol Rini terpenjara derita batin, membuat malu menampkan wajah. Sering Usai waktu, Rini menunjukan keberanian terhadap teman-teman. On Tahu bahwa Rini tidak berangkat mendaki. Sengaja memang On menanyakan sudah diatas gunung apa belum! Agar supaya semua teman-teman tidak mencurigai kondisi ini memang benar tidak ketahui On, malamnya, menelpon agar memastikan keadaan karena melihat cuaca langit terselimut kabut hitam siang, hingga sore. Jawab Rini terlontar tegas menyindir, teman-teman tidak siap. Kini semkin rumit rasa perjanjian lisan tak mengoreskan bentuk apapun terkecuali pusing atau cemberut.
Situwasi genting tak mungkin On diam dalam penderitan Rini. On mengajak Rini agar besama semula. Rini teguh hati kembali gumpul. Kehadiran Rini membuat On tertawa lucu sendiri, menyebabkan ketersinggungan Rini semakin dalam. Rini tahu, cara terburuk menaklukkan On juga Abdul yaitu meneteskan air mata. Siapa sangka Rini memnang meski harus seperti anak kecil. Sangat terang-terangan menangis dibawah kecerahan lapu philips. Perasaan On lulu mendengar isak tangis Rini, kemudian membujuk Rini agar berhenti menangis, secara tiba-tiba gadis berjubah hita besar memandangi On dan Rini mencuri pandang peristiwa pertikayan Rini, On dan Abdul.
Rini kiranya sedikit lihai dalam bidang ekting karena pernah mengikuti latian teater, tahu sendiri dalam bidang tiater itu cukup membutuhkan karakter profosional. Sekecil Abdul tak tinggal diam, tetap menggoda Rini megeluarkan semua tenaga energi untuk membakar jantung Rini tetap amarah Rini meluap. Sapai-sampai Rini berkeputusan terburuk bergerak meninggalkan temapat ngumpul. Namun terjadi apa?, Rini diberhentikan dari perjalan tersebut. Mengingat malam semakin larut apalah mungkin Rini dibiarkan bertati-tati menempuh jalan lurus antara keluarah.
Semua bisa dikendalikan On. Tak lama Rini kembali, masi saja marah, Rini pun bergegas menggunakan sepeda motor biru bercampur putih lalu pergi. Kepergian tersebut membawa bekas luka. Ini diketahui lewat komunikasi On terhdap Rini. Tahu-tahu bara api kemarahan Rini tertutup arang tak kelihatan mulai membarah. Seiring waktu On dengan wajah pucat, gegabah, mungkin berjalan tak lagi mengunakan helem. On bergegas bersama seorang adik akbar menuju kediaman Rini menggunakan helem. Kepergian tersebut tak lagi menghiraukan beberapa adik-adik.
Tibah, On dan Akbar Bercakapan besama Rini. Tampak perasaan Akbar menatap semua tersipuk malu berkomunikasi. Membalut senyuman tipis tercampur emosi. Menjadi tanda tanya besar Akbar.! Pembicaraan halus, manis, ada sikap tegas terselubung. Meski harus dipikirkan Akbar supaya memberhentikan semua sandiwara. Esok hari Rini berangkat ke-kampus mencurahkan semua luka lara terhadap seorang sahabat. 
Mulai dari situlah kesadaran Rini harus juju pada perasan terhadap On yang selam ini terpendam. Perbincangannya terhadap Indri. Meski On sendir tahu dan memandang cinta Rini sebelah mata. Rini tetap mengupayakan agara On bersikap rindu pada nya. Meski Rini juga tahu, tidak mungkin On menerima kenyataan ini begitu saja. Waktu menjawab terhadap Akbar keadilan sosial berlaku, saat kejenuhan melanda Akbar sengaja, mampir rumah sahabat bernama Indri, mumpung Indri sempat bekenalan dengan Akbar sebelum kejadian tersebut.
Satu tempat perkumpulan mahasiswa, Indri kehilangan dompet, Akbar menemukaan dompet dan mengembalikan. Indri gembira, tak harus merasa kehilangan dompet berisi uang semeter belum terbayar di bank. Saat Indri menerima dompet itu, Indri menilai akbar seorang baik hati, pertemuan sekejab Indri dan Akbar, Indri kemudian bercerita bahwa ada seorang sahabat sama-sama kuliah bernama Rini, mencurahkan semua perasaan cinta lelaki bernama On. Banyak hal yang tidak diketahui Indri bahwa Rini sangat dekat dengan Akbar juga On. Akbar mendengar cerita Indri seraya tidak menggenal Rini juga On. Akbar memang sedikit sok atas apa yang diceritakan Indri. Perasaan kehawateran Akbar mulai menurun setelah semua kejadian.
Akbar kembali berfikir untuk memberhentikan jangan sampai sebagian sahabat-sahabat mereka memandang mereka negatif. Meski Akbar mengetahui kenyataan bahwa Rini mencintai On. On sendri tidak mencintai Rini. Akabar kecoblosan menggatakan ini pada Abdu. Begitu cerita selesai. Abdu sangat gembira dengan semua informasi Akbar bahwa peluang besar untuk dirinya. Abdul bergegas mengambil ponsel untuk membuat pertemuan tersendri tampa harus melibatkan orang lain. Sejak pertemua sepuluh malam Abdul gemtar harus berfikir mengatakan semua isi hati.
Abdul mulai bersikap seperti pria lain mudah memangsa gadis-gadis. Abdul mengatar Rini dengan kalimat pembuka lihatlah bintang-bintang malam meski jauh, hitam, tetap kelihat. Rini mulai berfikir kurang beres dalam kepala Abdul, hanya saja Rini menjaga sikap agar tidak mengecewakan Abdul, olehnya Rini diam, seakan mendengar semua cerita, tiba klimaks perasaan Abdul mulai memuncak. Rini paham sebagai gadis dewasa, pernah juga punya pacar, tentu tahu bagimana trik seorang pria menggungkapkan cinta. Rini kembali berbicara sama skali menyentuh cerita Abdul tersipuk malu-malu, gelora asmara makin meyebar tubuh Abdul. Lantas semua selesai, Rini mendengar henpon berbunyi ternyata, pacar Rini menelpon berlum sempat putus.  Sekian(***)

Monday, February 6, 2017

Buih Putih Halmahera



Zaitun Toduho
Anggota Forum Studi Independensia
Kader Himpunan Mahasiswa Islam
Kader djaman 
Ketua HMJ Sastra Indonesia


Buih putih halmahera. 
Engkau menyapaku dengan manja. 
Menggelitik jemari kakiku. 
Sembari tersenyum penuh nada. 
 Buih putih halmahera. 
Aku rindu ceritamu hari itu. 
Tentang kisah dari teluk yg fana. 
Dan tarian ilalang menyambut senja. 
 Buih putih halmahera. 
Entah kenapa engkau begitu ku rindu. 
Selalu ada pesan pulang. 
Di setiap pecahan ombakmu. 
 Buih putih halmahera. 
Tunggulah sebentar, 
aku sedang merajut mimpi. 
Jika kelak mimpi ini terwujud. 
Aku akan segera bertandang di pantaimu. 
 Buih putih halmahera. Tak banyak pintaku kali ini. 
Namun dapatkah kau berjanji untukku ? 
Jagalah Arumbaimu sampai aku pulang. 
Dan kita akan berlayar bersama. 

 (Akelamo, 15 Agustus 2016)

tentang rindu


Zaitun Toduho
Anggota Forum Studi Independensia
Kader Himpunan Mahasiswa Islam
Kader djaman 
Ketua HMJ Sastra Indonesi

Memandang langit yang luas, sudutnya tak terjangkau dan membentang. Angin sudah tidak lagi datang pada selasar ingatanku. Gemuruh yang riuh dari beragam serangga tidak lagi menghiasi halaman telingaku. Mungkin hari ini ada yang ingin datang menjadi kenangan. Sebuah nama, sebuah cerita, dan beberapa situasi yang membawa daun terpaksa jatuh sebelum angin bertiup. Wajahmu pun muncul perlahan di antara awan yang menghitam.Ingin Kuceritakan bahwa Hari ini Cuaca bergerak tak seimbang, kumpulan awan kembang kempis bergerak tanpa ada alasan yang bisa ditepis. Hujan masih ragu untuk turun, seperti malu atau mungkin gagu melihat kita yang tersekap rindu. Langit makin abu-abu, hitam memendam rindu, menyadarkan perasaan bahwa ingatan bisa dipilah sebelum dipilih menjadi kenangan. Langit yang mendung, juga perasaan rindu yang sulit dibendung, bersiap tumpah menjadi air mata ketika langit pecah. Kita pun berpasrah, semoga hujan membawa hati kita pulang pada kenangan yang semestinya....
Haa Hujan Sebentar Lagi

sepotong sajak


Zaitun Toduho
Anggota Forum Studi Independensia
Kader Himpunan Mahasiswa Islam
Kader djaman 
Ketua HMJ Sastra Indonesia

Aku mencintaimu,
setabah sajak mencintai setiap kesedihan.
Kau juga pernah bilang padaku,
 air mata kekasih adalah guru terbaik,
 untuk belajar menjatuhkan sakit,
dan membebaskan pedih....